Pertanyaan 1: apakah ada ketentuan kepercayaan atau adat?
Ini penyaring paling tegas karena menyangkut isi teks, bukan selera. Kalau undangan perlu memuat ayat, salam khusus, atau istilah prosesi adat, mulailah dari kategori agama atau budaya — bukan dari kategori gaya.
Untuk pernikahan beda adat, umumnya undangan mengikuti adat pihak penyelenggara acara utama, dengan rangkaian acara pihak lain dicantumkan terpisah.
Pertanyaan 2: sudah punya foto prewedding?
Template berbasis foto membangun seluruh halaman di sekitar potret pasangan. Kalau fotonya belum ada atau kualitasnya seadanya, hasilnya akan terlihat jauh lebih buruk dibanding template tanpa foto.
Sebaliknya, kalau sudah ada sesi foto yang bagus, memakai template non-foto berarti menyia-nyiakan aset terbaik yang Anda punya.
Pertanyaan 3: di mana acaranya?
Lokasi menentukan gaya yang terasa nyambung. Undangan yang bertolak belakang dengan dekorasi acara membuat tamu membentuk ekspektasi yang keliru.
- Ballroom atau hotel
- Gaya klasik, luxury, atau modern formal.
- Kebun atau rumah
- Gaya earthy, bunga, atau tema alam.
- Pantai atau destinasi
- Gaya tropis dan tema ocean atau sunset.
- Kafe atau ruang kecil
- Gaya minimalis dan modern.
Pertanyaan 4: siapa mayoritas tamunya?
Kalau sebagian besar tamu adalah keluarga besar dan kolega senior, pilih template dengan tipografi besar dan kontras tinggi. Gaya klasik dan minimalis paling aman untuk rentang usia yang lebar.
Template berlatar gelap dan bergaya futuristik memang menarik, tetapi sebaiknya dicek dulu keterbacaannya di ponsel milik orang tua sebelum diputuskan.
Uji sebelum memutuskan
Buka pratinjau kandidat Anda di ponsel, bukan di laptop, dan gulir sampai habis. Perhatikan tiga hal: apakah nama panjang muat tanpa terpotong, apakah jam acara langsung terbaca, dan apakah tombol peta mudah ditekan dengan ibu jari.
Kalau ketiganya lolos, sisanya tinggal soal selera — dan pada titik itu pilihan mana pun sudah aman.